HARI SABAT = HARI SABTU? (TANGGAPAN ATAS BUKU THE TRUTH ABOUT THE SABBATH).
Baru-baru ini saya membaca sebuah buku tentang kebenaran di balik hari Sabat dan kekacauan yang ditimbulkan akibat pergeseran hari Sabat dari hari Sabtu menjadi hari Minggu. Intinya terdapat suatu dosa dan kejahatan terhadap iman dan kitab suci sebagai akibat dari pergeseran hari tersebut. Buku ini memberikan cukup banyak bukti apologetis untuk menguatkan kebenaran peribadatan di hari Sabat, tetapi sama sekali tidak memberikan suatu uraian yang cukup sistematis dan hakiki tentang inti dari berita kitab suci dan Injil.
Buku ini memang mencoba menggoyang tradisi kristen yang telah lama memelihara hari Minggu sebagai hari peribadatan yang sama sekali tidak berhubungan lagi dengan hari Sabtu. Tetapi benarkah umat Kristen yang injili itu tidak lagi memelihara hari Sabat Tuhan dan tidak lagi memelihara hukum ke-4 dalam Kel. 20: 8-11? Rasanya ini adalah pertanyaan problematis yang sepantasnya tidak dijawab dengan pendekatan apologetika berdasarkan dogma tertentu. Kitab Suci kita, Alkitab telah memberikan jawaban yang final dan cukup objektif atas pendekatan ini tanpa duduk di atas dogma-dogma yang rumit dan membingungkan tersebut. Kita perlu melihat dari perspektif yang tepat dan kontekstual dari Alkitab sendiri, yaitu latar belakang penulisan, waktu penulisannya, bentuk penulisannya dan budaya yang dihidupi selama masa penulisan Alkitab. Itu berarti analisis ini tidak semata-mata terarah pada satu perspektif Alkitab saja, tetapi mencoba menggalinya dari sudut pandang budaya, sejarah dan siapa penulis Alkitab itu sendiri.
A. Hari Sabat dalam Kitab Torah.
Cukup banyak bukti di dalam Alkitab yang berbicara tentang hari Sabat. Umat Kristen yang reformis dan Injili, tidak akan pernah menolak kebenaran ini. Alkitab telah menjadi satu-satunya kebenaran dan standar keimanan yang sangat dihormati dan dijunjung tinggi oleh umat Kristen yang Injili. Itu berarti tidak ada keraguan bahwa umat Kristen Injili menolak peribadatan yang dilaksanakan pada hari Sabat Tuhan.
Hari Sabat Tuhan adalah mutlak dan final, jadi tidak ada sesuatu problem yang berkaitan dengan pemeliharaan hari Sabat tersebut. Lalu mengapa kita harus terganggu dengan pembuktian alegoris dan pragmatis yang dikemukakan oleh berbagai dogma-dogma baru tersebut?
Kitab Kej. 1, jelas berbicara tentang peristiwa penciptaan. Dimana enam hari lamanya Tuhan bekerja dan pada hari yang ketujuh Tuhan beristirahat dan menguduskan hari itu (Kej. 2: 1). Benarkah bagian ini membicarakan tentang hari sabtu sebagai hari Sabat tersebut? Konteks penulisan pasal itu tidak dapat dimengerti secara harafiah. Artinya, Tuhan telah menguduskan hari itu agar umat-Nya beristirahat dan beribadah. Apakah hari itu dapat dengan pasti dicocokkan dengan kalender manusia? Bukankah dalam waktu Tuhan: satu hari adalah sama dengan seribu tahun dan seribu tahun sama seperti satu hari? (2 Pet. 3: 8). Bukankah penciptaan sendiri berada di luar kalender manusia? Jadi bagaimana mungkin kita dapat berkata bahwa Hari Sabat Tuhan adalah hari sabtu sebagai mana yang dikenal pada saat ini?
Masa penulisan Torah, khususnya pasal 2 Kitab Kejadian ditulis lebih kemudian, yaitu pada saat Umat Israel kembali dari pembuangan dari Babel, jadi Pasal 2 pada Kitab Kejadian baru ditambahkan belakangan pada Pasal 1, yang telah ditulis pada zaman Raja Daud. Tampaknya disini ada suatu upaya memasukan tradisi Yahudi ke dalam kisah penciptaan tersebut.
Kitab Torah sendiri tidak dikalimatkan secara langsung melainkan merupakan tradisi lisan yang dipelihara oleh umat
B. Yesus dan Hari Sabat.
Hari Sabat diciptakan untuk Manusia dan bukan manusia untuk hari Sabat (Mark. 2: 27), bahkan dalam pasal selanjutnya Yesus sendiri berkata bahwa: Anak Manusia adalah Tuhan atas hari Sabat. Penekanan Injil dan kehidupan Yesus yang berhubungan dengan hari Sabat jelas merupakan hal yang wajar, karena Yesus hidup dalam tradisi Yahudi yang sangat kuat dan kental. Peristiwa Yudas Makabe dan Yesus Bin Sirakh merupakan contoh bagaimana kuatnya iman umat pada masa itu untuk memelihara hukum Tuhan dari ancaman kebudayaan asing dan kafir yang dianggap najis.
Tetapi Yesus sendiri mengkritik pemeliharaan Sabat yang terlalu ekstrim tersebut dan mengabaikan kasih Allah. Penulisan Injil tentang hari Sabat, jelas menunjukkan bahwa para murid dan penulis Injil tersebut tetap memelihara hari Sabat, tetapi pemberitaan Sabat sama sekali tidak menjadi inti berita Injil, karena inti dari berita Injil adalah kedatangan Kerajaan Allah dan berakhirnya kekuasaan Iblis di dunia. Inti berita Injil ini walau bagaimanapun harus tetap menjadi pokok pemberitaan dan bukan sebaliknya mencomot ayat yang tidak pada konteksnya untuk kemudian dipaksakan untuk masuk ke dalam dogma tertentu dan berusaha untuk membenarkan dogma tersebut.
Berita-berita sabat dalam Injil jelas terlihat sebagai penambahan saja, yang lebih ditekankan disana adalah bagaimana kuasa Yesus yang sangat luar biasa, menyatakan mujizat yang sangat hebat untuk membuktikan kepada umat Israel bahwa nubuatan mesianik Israel telah digenapi (Luk. 7: 18-23), dan dengan demikian Kerajaan Sorga sudah dekat. Menjadi jelas kemudian bahwa Kerajaan Sorga benar-benar hadir di dunia ketika kepala Iblis dipatahkan di depan kubur Yusuf Arimatea pada saat paskah tiba.
Jadi manakah yang harus kita pegang dari berita Injil? Kulitnya? Atau intinya? Anda dan saya tentu akan sepakat bahwa yang harus dipegang dan diterima adalah intinya bukan kulitnya atau tambahannya. Yang harusnya diberitakan dari Injil Kristus adalah intinya, yaitu Kristus sendiri dan bukan kulitnya tersebut.
C.
Dalam Kis. 15: 28-29, dengan jelas berbicara tentang anjuran para Rasul di Yerusalem tentang bagaimana orang kafir yang baru bertobat seharusnya hidup dalam kasih Allah dan anugerah keselamatan yang baru diperolehnya itu. Di
Bagaimana dengan sikap Rasul Paulus sendiri? Paulus yang memang telah dikhususkan sebagai rasul bagi bangsa-bangsa lain, nampaknya tidak memaksakan hari Sabat kepada umat Kristen waktu itu, kecuali jika mereka awalnya adalah Yahudi. Paulus telah menempatkan inti berita Injilnya pada Kasih Karunia Allah dalam Iman dan bukan keselamatan oleh karena melakukan Hukum Torah. Hukum Torah adalah sempurna, tetapi hukum itu hanyalah bayangan dari apa yang seharusnya akan datang kemudian, yaitu Mesias. Jadi haruskah kita bergantung pada Hukum Torah, jika ternyata kita memiliki Mesias yang telah mengorbankan nyawanya bagi dosa manusia? Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan setiap orang percaya (Rom. 1: 16). Apakah Injil kekuatan Allah yang menyelamatkan itu berbicara tentang hari Sabat? Tidak! Injil yang menjadi kekuatan Allah itu justru berbicara tentang kasih karunia Allah yang menyelamatkan, bukan karena perbuatan manusia, bukan pula karena hasil usaha dan jerih lelah manusia, melainkan semata-mata karena pemberian Allah.
Keselamatan manusia harusnya dipandang dari sisi pengudusan dan pembenaran oleh kasih karunia Allah, bukan karena memelihara salah satu hari. Itu berarti, jika kehidupan kita hanya terobsesi pada suatu hari saja, lalu bagaimana kita dapat hidup dalam kasih karunia Allah yang telah final menebus manusia?
D. Kritik dari Sisi lain.
Jika pada ulasan saya di atas, lebih merupakan penjelasan dari sudut pandang kitab Suci, maka uraian saya pada bagian ini lebih berbau ilmu pengetahuan khususnya fisika teori. Dalam ilmu fisika dan telah diterima sebagai kebenaran yang final dalam ilmu pengetahuan menyatakan bahwa alam semesta berasal dari suatu difusi nuklir dalam materi yang disebut sebagai “Big Bang” (ledakan besar). Sebelum terjadinya Big Bang, maka sama sekali tidak ada apa-apa, kosong, tanpa materi dan tanpa ruang. Anda dapat membayangkan hal ini dengan melihat bahwa seandainya seluru semesta diremas-remas menjadi sesuatu yang menyerupai bola, maka tidak ada apapun, kecuali bola itu yang memenuhi seluruh tempat. Itu berarti peristiwa Big Bang, telah menyebabkan terjadinya waktu. Seorang ilmuwan atheis bahkan mengatakan bahwa peristiwa big bang itu tidak terjadi satu kali, melainkan terjadi berkali-kali. Itu artinya tidak ada kesepakatan waktu dalam suatu semesta? Semesta yang kita hidupi ini bahkan tidak berada pada tiga dimensi, melainkan pada 4 dimensi dan sepuluh dimensi yang merupakan semesta superstring.
Peristiwa big bang juga telah menjadi penanda awal bagi waktu kita sekarang. Pertanyaannya? Hari apakah kejadian big bang itu? Tidak ada jawaban, bukan? Karena itu bisa hari apa saja, entah siang, entah malam, senja dan sebagainya. Lalu bagaimana kita bisa mematok hari pertama sebagai hari minggu dan hari ketujuh adalah hari sabtu? Semua itu bisa berarti apa saja. Kelahiran waktu dalam kalender manusia baru ditetapkan kemudian dalam sejarah, tidak dalam masa kehidupan bumi dan peradaban kuno, jadi hari Sabat, sekali lagi tidak dapat dipatok mati sebagai hari sabtu dalam tradisi kita ini.
E. Kesimpulan.
Mungkin perdebatan tentang hari Sabat ini tidak akan pernah berakhir antara mereka yang mendukung hari itu secara harafiah dan mereka yang lebih memandang itu sebagai loncatan iman yang percaya kepada keselamatan oleh kasih karunia Allah.
Komentar
Posting Komentar